![]() |
| Tulisan Fanny |
Hari ini aku nongkrong bersama adikku di salah satu kafe di Aceh Barat. Memilih yang dekat dengan pesisir pantai agar bisa menikmati angin pantai dan pemandangannya. Rencana ini sudah direncanakan sejak beberapa hari yang lalu. Tapi, ya, namanya situasi belum mendukung, entah hujan atau tak terasa ternyata sudah malam sehingga harus menunda esok hari.
Awal melihat tempatnya, cukup ramai sepertinya karena banyak kendaraan roda dua yang terpakir. Ada juga beberapa roda empat. Ketika masuk, ternyata tidak seramai yang dipikirkan sebelumnya. Sepertinya motor-motor yang terparkir adalah milik para ibu-ibu yang duduk di lantai dua. Mungkin mereka sedang melakukan reuni karena jumlahnya cukup banyak jika hanya sekedar nongkrong. Suara heboh ketika mau mengambil foto bersama, seakan memberi makna bahwa mereka sangat jarang bertemu dan berkumpul seperti itu. Apakah nanti aku juga akan demikian dengan teman-temanku? Entahlah. Tapi yang ku kagumi, jiwa mudanya sungguh luar biasa. Usia hanyalah angka.
Baru saja duduk dan melihat pelayan meletakkan tisu gulung, daftar menu, serta lembaran untuk menulis makanan serta minuman yang ingin dipesan, sudah membuat diriku kesal. Bagaimana tidak? Tisunya tidak diberi wadah, bahkan terselimuti dengan penutup plastik kemasan bawaan pabrik saja tidak. Fyi, disini masih ada yang menggunakan tisu gulung sebagai lap mulut. Kenapa yaa? Apalagi aku duduk di bagian outdoor yang langsung beralaskan pasir pantai disertai angin semilir pantai. Mungkin, aku pribadi akan fine-fine saja, namun bagaimana dengan yang lain?
Setalah menulis makanan dan minuman yang ingin dipesan di lembaran pesanan, pelayan langsung mengambilnya dengan wajah jutek. Menyebalkan sekali! Tidak ramah! Aku menumpahkan kekesalan kepada adikku. Otomatis sambil berlatih bagaimana memberitahu tisu dan pelayanan yang kurang menyenangkan kepada salah satu pegawai kafe dengan cara baik dan tepat.
Setelah pesanan datang dan mengambil beberapa foto, aku melihat perbedaan makananku dengan adikku. Kami memesan mie yamin spesial dan mie yamin. Tidak ada perbedaan yang signifikan. Hanya, yang spesial mendapat satu telur ayam rebus utuh dan sepotong pangsit basah, sedangkan satunya lagi ada setengah telur ayam rebus saja. Selebihnya semua sama. Soal rasa, aku berani memberi 3/10. Ya, meskipun kata orang dan fakta di lapangan, dari banyak kafe yang aku kunjungi, untuk soal makanan masih sangat kurang. Sepengalamanku, kafe lebih unggul pada minumannya. Mungkin kalian punya pengalaman yang sama? Atau berbeda?
Apa lagi yang ku temukan? Aku dan adikku juga memesan cireng. Wah! Selama aku kembali dari Yogyakarta, baru kali ini menemukan ada yang menjual cireng. Tapi, tapi, tapi..... Aku menyesal! Cireng yang aku pesan dipenuhi tepung yang belum matang. Setiap gigitan, terasa tepung yang masih bertekstur halus. Aduh! Aku harus menyampaikan ini! Mungkin mereka ingin mencoba menjual, kali saja ada pembeli. Tapi, sayangnya, masih harus berlatih cara membuatnya agar nikmat dimakan. Padahal, cireng cocok menemani tongkrongan melihat pantai.
Ada lagi hal yang ingin ku ceritakan. Sebelum itu, aku sangat paham bahwa Indonesia memiliki beragam suku. Dan, suku-suku di Indonesia bisa ditebak hanya dengan mendengar logat dan nada berbicara. Tapi, ini bukan tentang suku. Ini tentang attitude. Pelayan, sama seperti pekerja lain, bekerja dan pastinya belajar bagaimana cara bekerja maksimal serta memuaskan pelanggan. Adakalanya kesalahan tercipta tak sengaja. Aku melihat seorang ibu, sepertinya bukan warga asli disini, menegur pelayan karena salah membawa pesanan. Ya, meskipun pesanan dibuat oleh yang bekerja di bagian dapur, tetap pelayan yang merasakan imbasnya. Ibu ini kesal dan menegur pelayan tersebut dengan nada suara yang besar. Melihatnya, sungguh tidak tega. Sedang mencari rejeki, tapi dibalas dengan cara demikian.
Mungkin, tulisan ini lebih seperti menulis di buku diary. Akan tetapi, aku masih berharap ada pelajaran yang bisa dipetik dari sini. Mungkin bisa ku sampaikan dua pesan yang bisa dipetik. Pertama, bagi para pebisnis, apalagi pemula, aku sarankan untuk melakukan riset lebih dalam terkait apa saja yang harus dipersiapkan untuk bisnis yang akan atau sedang dibangun. Seperti apa saja wadah atau benda yang harus dipersiapkan, bagaimana memastikan pelayan tau ilmu pelayanan dengan baik, jika menjual makanan, pastikan sudah menemukan hasil yang maksimal agar bisa dinikmati oleh pelanggan. Kedua, jika ingin menegur seseorang karena kesalahannya, bisa menggunakan nada yang rendah dan santun. Tidak dengan suara keras. Kalau dengan cara ini, keduanya tidak menimbulkan sakit hati kan?
Segitu saja untuk tulisan kali ini. Aku sudah cukup berjaga di malam hari. Waktunya aku merangkai mimpi indah. Semoga tulisanku bermanfaat. See you, guys!
.png)
Komentar
Posting Komentar