Baru beberapa halaman aku membaca tulisan tentang montessori, tapi sudah tertampar oleh realita. Lingkunganku dan beberapa lingkungan lainnya masih menerapkan ajaran lama dengan label "Yang penting anak belajar." Hal ini terkhusus jenjang Paud dan TK. Ah, tapi kalau dipikir, bisa masuk juga ke ranah SD.
Ada pernyataan yang harus aku tuliskan disini. Kira-kira menyatakan bahwa anak membutuhkan ruang untuk eksplorasi dan membutuhkan material untuk belajar. Mungkin beberapa orang akan menganggap, "Ah, itu mah cuman teori Eropa doang." Hmm.... atau mungkin tidak?
Maksud membutuhkan ruang disini adalah anak perlu ruang dalam melakukan eksplorasi terhadap suatu hal atau dalam mempelajari sesuatu. Ruang yang disediakan juga memadai.
Pernah melihat balita yang suka megang benda? Apapun itu pasti dipegang? Tidak hanya itu, mereka juga mengamati dengan bola matanya yang seakan melebar seketika. Tak jarang, memasukkannya ke mulut juga. Sebenarnya, mereka sedang apa si?
Pernah terpikirkan kalau mereka sedang mengamati benda yang sedang dipegangnya? Yups, itu cara mereka belajar. Mengamati dan mengenal benda-benda sekitar yang ada di dunia.
Ada lagi yang menjadi perhatianku pada tulisan ini. Disana tertulis bahwa mereka pernah melakukan penelitian terhadap salah satu anak perempuan. Jadi, dia sedang bermain dengan benda yang dipegangnya. Kemudian, sengaja membiarkannya sendiri, sambil mengajari anak-anak yang lain. Si anak perempuan ini terus fokus pada benda yang dipegangnya. Ternyata, bisa diambil kesimpulan bahwa anak tidak bisa dipaksa untuk belajar apa yang ingin kita ajarkan.
Wah, pelajar baru ya! Berdasarkan pandangan saya si... nyatanya di Indonesia masih ditemukan anak yang dipaksa untuk belajar, bahkan diluar kemampuannya. Maksudnya begini. Disaat anak sedang punya keinginan belajar, maka tuntunlah dia belajar. Namun, jika sudah waktu dia meminta untuk bermain atau menurut dia ini adalah waktunya untuk bermain, maka beri dia waktu.
"Ah, kalau gitu mah, anak ga bakal belajar disiplin." Mungkin terdengar seperti tidak disiplin yaaa. Dikarenakan mengajarkan anak hanya sesuai keinginannya. Begini deh, aku beri contoh saja. Kamu selalu melakukan pekerjaan memasak dan menyapu rumah. Satu waktu, kamu bosan dan jenuh dengan hal tersebut dan ingin berhenti melakukannya sejenak. Kamu sadar kalau itu adalah hal yang harus dilakukan, tapi kamu sudah tidak bisa melakukannya. Apakah kamu bisa memaksa diri?
"Itu mah cuman teori orang malas aja." Oke... kalau sudah begini, saya angkat tangan. Haha :D
Kalau kamu sudah bosan dan jenuh, saya jamin, pasti akan dihentikan sejenak kedua pekerjaan tersebut. Bukan berarti malas, tapi BOSAN dan JENUH. Nah, begitu juga dengan anak. Apalagi anak yang notabennya bermain dan belum memiliki pemahaman yang kuat akan dunia, pasti akan merengek jika kamu memaksa. Atau, tetap melakukan kegiatan belajar, namun dipendam kekesalannya kepada kamu dan membalas ketika sudah cukup berani untuk melawan. Hayo, mau dengan cara apa mendidik anak?
Meski ini hanya celotehan dari opini yang aku dapatkan setelah membaca bacaan yang berjudul The Montessori Method: Educating Children for A Lifetime of Learning and Happiness karya Heike Larson, namun aku harap ada ilmu yang bisa dipetik. :)
Komentar
Posting Komentar