Marah adalah emosi yang wajar dimiliki oleh manusia. Hal ini bisa terjadi jika ada harapan yang tidak terwujud. Untuk menahan emosi ini keluar, sangat tidak mungkin. Fitrah ini sudah ada sejak bayi. Maka dari itu, kita perlu mengontrol diri, memastikan saat dikeluarkan tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain.
Jika berteman atau mempunyai hubungan kerabat dengan seseorang, dan dia marah, biasanya kita akan berpikir apa yang menyebabkan itu terjadi. Tak jarang juga melakukan intropeksi diri, menebak, apakah kita penyebabnya? Namun, ada hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan intropeksi diri sebelum memutuskan apa penyebabnya.Sebelumnya perlu aku tekankan, bahwa disini aku tuliskan berdasarkan pengalamanku. Sebagai yang pernah terjebak dalam introspeksi yang terlalu menyimpang hingga menyalahkan diri sendiri. Dan, ternyata sangat menyakitkan. Sudah menyakiti diri sendiri, disakiti lagi. Duh! Cukup deh! Hati-hati, manipulator sangat senang jika kamu seperti ini.
Pertama, bisa memulai dengan mengingat semua kejadian secara detail. Jangan menyangkal jika seseorang yang melakukan kesalahan adalah hal yang tidak perlu masuk ke list ingatan. Jangan pernah membohongi diri sendiri! Kamu berhak untuk sadar bahwa realita dan fakta kehidupan itu harus ada. Membohongi diri sendiri sama juga dengan membodohi diri sendiri. Ingin selamanya begini?
Kedua, jika memang kamu salah, akui bahwa kamu yang salah. Namun, jika orang lain salah, jangan alihkan perasaan dengan, "Dia marah karena aku yang menyebabkan dia marah." Stop! Kamu juga manusia, kamu berhak atas segala pengakuian jujur dan perlakuan baik dari orang lain. Jangan biarkan manipulator semakin besar dengan kamu mengecilkan diri sendiri.
Ketiga, jangan pernah berdalih dengan "cari aman". Meski bukan kamu penyebabnya, cari aman saja dengan mengakui bahwa kamu lah penyebab seseorang marah. Ini bukan mengakui, tapi membohongi diri sendiri. Ini juga sama artinya dengan semakin memberi asupan kepada manipulator. Dan kamu semakin merasa bersalah. Bahaya! Kamu bisa dimanipulasikan atas dasar kesalahan palsu yang kamu yakini. Mau sampai kapan seperti ini?
Keempat, tinggalkan jika orang tersebut masih marah kepadamu meskipun kesalahan sudah jelaskan dia lah penyebabnya. Dia hanya memanfaatkan situasi. Kamu lah yang memberi dia kesempatan untuk menghabisi mentalmu secara perlahan. Itu sudah masuk kategori pertemanan atau hubungan toxic. Kamu berhak mendapat hidup yang layak dan dikelilingi orang jujur.
Jika saat membaca ini, satu atau dua diantaranya pernah kamu alami atau diterapkan demi menjaga hubungan baik, segera lakukan perubahan dengan mengakui bahwa bukan diri kamu sendiri yang salah.
Ingatlah! Mau hubungan pertemanan, keluarga, rekan kerja, atau suami istri, jika hanya satu orang yang harus terus berkorban demi terjaganya sebuah hubungan. Hubungan dengan segala kepalsuan agar tidak terpecahbelah, dengan cara menyakiti diri sendiri. Selamat! Kamu sedang mempertahankan hubungan toxic.
Komentar
Posting Komentar